Albert Einstein dan Oppenheimer J Robert Dua kehidupan yang paralel
Albert Einstein dan Oppenheimer J Robert bukan sekadar dua ilmuwan besar abad ke 20, tetapi juga dua jiwa yang dipersatukan oleh beban penyesalan. Sebuah foto hitam putih tahun 1947 di Institute for Advanced Study, Princeton, memperlihatkan keduanya duduk berdampingan. Einstein dengan rambut acak menatap tenang, sementara Oppenheimer yang lebih muda mendengarkan dengan wajah penuh hormat. Dua generasi jenius bertemu dalam satu ruangan, satu membangun dasar pemahaman alam semesta, dan satu lagi memetik konsekuensi paling kelam dari pengetahuan itu.
Kedekatan mereka baru terjalin di tahun-tahun terakhir hidup Einstein. Dalam pidato UNESCO tahun 1965, Oppenheimer mengenang Einstein bukan sebagai legenda atau mitos, melainkan sebagai manusia yang lembut, jujur, dan sangat sadar akan tanggung jawab moral ilmu. Ia menyebut Einstein sebagai “filsuf alam terbesar di zaman kita”, dan mengagumi keteguhan moralnya di tengah tekanan politik dan ilmiah.
Einstein sendiri sering dihinggapi rasa kecewa terhadap dunia modern. Ia pernah berkata bahwa jika bisa hidup kembali, ia akan memilih menjadi tukang ledeng agar dapat hidup sederhana tanpa dibebani perang dan politik. Pernyataan ini ia tulis pada 1954 dalam surat kepada majalah The Reporter, sebagai sindiran terhadap arah dunia yang makin kehilangan nurani. Kejeniusannya dalam fisika yang melahirkan teori relativitas ternyata juga membuka jalan bagi pemahaman tentang energi atom, sesuatu yang kelak ia sesali.
Meski namanya sering dikaitkan dengan bom atom, Einstein tidak pernah terlibat langsung dalam proyek pembuatan senjata itu. Satu-satunya perannya adalah menandatangani surat kepada Presiden Roosevelt pada tahun 1939, yang ditulis oleh Leo Szilard untuk memperingatkan bahaya Jerman Nazi yang mungkin lebih dulu membuat bom atom. Setelah perang usai, Einstein menyesali tanda tangan itu, dan menyebutnya sebagai kesalahan moral terbesarnya.
Di sisi lain, Oppenheimer yang memimpin Proyek Manhattan benar-benar menyaksikan hasil dari pengetahuan itu digunakan untuk menghancurkan kota dan manusia. Setelah bom dijatuhkan di Jepang, ia berkata pelan, “Sekarang aku telah menjadi maut, penghancur dunia,” mengutip kitab Bhagavad Gita. Ucapan itu bukan perayaan, melainkan pengakuan duka dari seorang ilmuwan yang menyadari beban tanggung jawabnya. Ia kemudian menentang pembuatan bom hidrogen, dan kehilangan izin keamanan karena pandangannya yang dianggap terlalu manusiawi.
Oppenheimer sering membela nama Einstein, dengan mengatakan bahwa sahabatnya tidak pernah berperan dalam perang, melainkan dalam revolusi pemikiran. Einstein mengubah cara manusia memahami alam semesta, bukan cara manusia menghancurkannya. Dan Oppenheimer, yang pernah menyaksikan kehancuran dari jarak dekat, memahami sepenuhnya makna penyesalan itu.
Keduanya menjadi cerminan dua sisi ilmu pengetahuan: Einstein sebagai suara nurani, dan Oppenheimer sebagai saksinya.
Di akhir hayat masing-masing, keduanya sepakat pada satu hal, bahwa pengetahuan tanpa kebijaksanaan hanya akan membawa manusia pada kehancuran, bukan kemajuan.


Komentar
Posting Komentar